Putri Ayu Asmita, Balita 4 Tahun Tenggelam di Parit Desa Upang Mulya, Nyawa Tak Terselamatkan

AIR SALEK, SUMSEL24JAM — Sabtu, 12 September 2026
 
Kesedihan mendalam menyelimuti warga Desa Upang Mulya, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, setelah seorang balita berusia 4 tahun bernama Putri Ayu Asmita binti Asdar, meninggal dunia akibat tenggelam di parit di belakang rumah kakeknya, Parit 8, Desa Upang Mulya.
 
Kronologi kejadian bermula saat Putri Ayu Asmita sedang bermain dan mandi bersama seorang temannya di perairan parit tersebut. Saat kakek korban, H. Assek, menyadari keberadaan anak itu, Putri Ayu Asmita sudah tidak terlihat di permukaan air dan diduga telah tenggelam.
 
Segera setelah mengetahui hal itu, H. Assek membangunkan ayah korban, Asdar, dan meminta agar segera melakukan pencarian. Tanpa berpikir panjang, Asdar langsung melompat masuk ke dalam air untuk menyelamatkan anaknya, namun belum berhasil menemukannya. Tak lama kemudian, Arham—paman dari korban—turut menyelam ke dasar perairan yang diduga memiliki kedalaman sekitar 10 meter. Tak lama berselang, Arham berhasil menemukan dan mengangkat jenazah Putri Ayu Asmita ke permukaan.
 
Upaya pertolongan segera dilakukan dengan menggoncangkan tubuh korban agar air yang masuk ke dalam perut dan saluran pernapasan keluar, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Warga kemudian segera menghubungi sarana transportasi dari Jalan 10 Air Salek untuk membawa korban ke fasilitas kesehatan di Desa Srikaton, Kecamatan Air Salek, guna mendapatkan penanganan medis dari dr. Rita. Namun sayang, upaya penyelamatan nyawa si kecil tidak berhasil.
 
Kisah ini semakin menyayat hati diketahui bahwa Ibu kandung korban, Hawa, sedang berada jauh dari rumah. Beliau berangkat ke Sulawesi Selatan pada tanggal 22 Agustus 2026 untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan belum pulang saat musibah menimpa anak tunggalnya.
 
Ketika berita duka ini sampai ke telinga Ibu Hawa sekitar pukul 15.00 WIB hari ini, beliau langsung bersiap berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, untuk segera pulang ke rumah duka. Hingga berita ini diturunkan, waktu kedatangan beliau belum dapat dipastikan, dan rencana pemakaman pun masih menunggu kepulangan ibu korban.
 
Musibah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk senantiasa meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama di lingkungan yang dekat dengan perairan terbuka.
 
Laporan: M. Akib – Wartawan Sumsel24Jam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama